Tranformasi Bagi Bangsa : Year of Intimacy - Intercession - Invasion

Rumah Persembahan
Pdt. R. Bambang Jonan

Kemudian Tuhan menampakkan diri kepada Salomo pada malam hari dan berfirman kepadanya: "Telah Kudengar doamu dan telah Kupilih tempat ini bagiKu sebagai rumah persembahan". (2 Tawarikh 7:12)

Baru-baru ini gereja kita melalui gembala pembina Bp. Pdt. Ir. Niko Nyotoraharjo mendapatkan penghargaan gelar doktor dari Church of God sebagai partner GBI Bethany di Amerika. Saya mendampingi Pak Niko untuk menerima penghargaan itu dari sekolah Alkitab mereka di Cleveland, Tennessee. Gelar ini adalah penghargaan yang luarbiasa dari Tuhan sebab sekolah Alkitab mereka telah berdiri selama dua puluh enam tahun dan baru memberi empat gelar doktor. Pada waktu melihat pelayanan gereja kita di wilayah barat akhirnya mereka memutuskan memberi gelar doktor yang keempat selama kurun waktu 26 tahun kepada GBI Bethany wilayah barat. Ini adalah anugerah Tuhan dan memang hari-hari ini Allah sedang mencurahkan kasih dan karuniaNya bagi kita semua.

Perikop firman Tuhan diatas berbicara tentang bagaimana Salomo mengalami lawatan Tuhan secara pribadi dalam kehidupannya. Judul perikop ayat tersebut berbicara tentang Tuhan menampakkan diri kepada Salomo untuk kedua kalinya. Pada waktu umat Israel keluar dari Mesir dalam kitab Keluaran 36 Tuhan memerintahkan kepada Musa untuk membangun satu rumah bagiNya yang disebut dengan Kemah Suci atau Tabernakel. Dan Tuhan berjanji apabila orang Israel membangun Kemah Suci sebagai rumah untuk Tuhan, maka Ia akan hadir disana membangun rumah untuk umatNya dan Tuhan akan menyatakan kemuliaanNya kepada umatNya.

Salomo menangkap pesan ini. Dia punya obsesi untuk membangun satu rumah untuk Tuhan akibatnya 2 Tawarikh pasal 5 sampai 7 mencatat tatkala Salomo mulai membangun rumah untuk Tuhan dan menyebutkan Rumah Tuhan adalah rumah persembahan (a house of sacrifice) kemuliaan Tuhan dalam bentuk tiang api turun ke atas mereka. Tuhan mulai melawat akan orang-orang yang ada di bait tersebut sehingga para imam tidak tahan untuk berdiri. Mereka sujud menyembah kepada Tuhan, mereka dilawat oleh Tuhan (2 Tawarikh 7:1-3)

Salomo terus mempersembahkan korban dan ia memikirkan bukan dirinya sendiri, mulai memikirkan akan orang banyak dan berdoa bagi orang banyak tersebut, menderita untuk orang-orang yang mengalami tekanan dalam kehidupannya. Setelah Salomo mengakhiri doanya maka tiba-tiba api dari sorga turun melawat umatNya. Ayat tiga menuliskan ketika segenap orang Israel melihat api itu turun dan kemuliaan Tuhan meliputi rumah itu berlututlah mereka diatas lantai dengan muka sampai ke tanah lalu sujud menyembah dan menyanyikan syukur bagi Tuhan sebab Ia baik bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setiaNya.

Alkitab mencatat ada satu peristiwa yang dialami oleh mereka yang membuat setiap lutut bertelut dan setiap lidah mengaku. Kehidupan Salomo dirubah dan mengalami kemuliaan Tuhan. Memasuki tahun ini Tuhan berbicara agar kita membuat tahta yang sebesar-besarnya bagi Tuhan. Bagaimana cara kita membuat tahta yang sebesar-besarnya bagi Tuhan?

Mazmur 22:4 berkata,

    "Padahal Engkaulah Yang Kudus yang bersemayam di atas puji-pujian orang Israel."

Allah bertahta diatas puji-pujian umatNya. Waktu Saudara mulai memuji Tuhan dan membawa korban pujian dihadapanNya maka Allah hadir ditengah-tengah kita. Kalau saudara rindu mengalami lawatan Tuhan lebih lagi buat tahta yang besar bagi Dia, persembahkan korban pujian dan penyembahan yang menyukakan hati Tuhan.

"Rumah Ku", kata Tuhan "akan disebut sebagai Rumah Persembahan." Apakah Anda mengerti bahwa tubuh kita ini adalah rumahNya Tuhan. Tubuh ini adalah tempat dimana kita mempersembahkan segala sesuatu untuk Tuhan.

1 Korintus 6:19 menuliskan,

"Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, - dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri? Sebab kamu telah dibeli dan harganya telah lunas dibayar; Karena itu muliakanlah Allah dengan tubuhmu!"

RUMAHKU AKAN DISEBUT SEBAGAI RUMAH PERSEMBAHAN
Ada tiga berkat yang menyertai orang yang suka memberi.

Yang pertama, diberkati sesuai dengan kapasitas yang Anda buat sendiri.

Lukas 6:38 menuliskan,

"Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah ke luar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu."

Manakah yang lebih baik, menerima atau memberi? Tentunya memberi itu lebih baik. Karena dengan memberi kita akan diberi. Memberi di dalam Alkitab dikaitkan dengan ukuran, kapasitas, volume. Apabila Saudara memiliki rumah yang besar, makin besar rumahnya tentu makin banyak orang yang bisa tinggal didalamnya. Kalau Saudara memilki sebuah mobil, makin besar mobilnya maka makin banyak orang yang bisa menumpang didalamnya. Besar atau kecil berbicara soal kapasitas atau ukuran. Dari pihak Tuhan, Dia siap untuk memberikan segalanya buat kita.

Sekalipun Tuhan adalah Allah yang sangat baik, Bapa yang panjang kasih dan setianya, Tuhan yang penuh rahmat dan anugerah tapi mengapa ada beberapa diantara kita yang bisa mengalami kebaikan Tuhan yang berlimpah-limpah, tapi sebagian lagi tidak mengalaminya. Ada yang dijawab doanya oleh Tuhan namun ada juga yang tidak dijawab doanya. Ada yang mengalami jamahan Tuhan ada juga yang tidak mengalaminya. Bahkan dalam ibadah ada yang dijamah dan dilawat Tuhan namun ada juga yang tenang-tenang saja. Mengapa ini bisa terjadi? Apakah Tuhan adalah Allah yang mengasihi yang satu dan membenci yang lain. Apakah Tuhan menciptakan matahari hanya untuk orang-orang yang baik dan tidak menciptakan matahari untuk orang-orang yang tidak baik. Kebaikan anugerah Tuhan sangat ditentukan oleh kapasitas yang kita miliki. Yang membatasi lawatan Allah dalam hidup seseorang itu bukan Tuhan karena Dia bukan Bapa yang pilih kasih. Yang membatasi lawatan Tuhan dalam kehidupan adalah kita sendiri. Karena ukuran yang kita pakai untuk mengukur akan diukurkan kepada kita.

Satu contoh lagi dalam 2 Korintus 9:6

"Camkanlah ini: Orang yang menabur sedikit, akan menuai sedikit juga, dan orang yang menabur banyak, akan menabur banyak juga."

Kalau seseorang tidak pernah menabur tentu tidak akan menuai. Kalau seorang petani hanya menabur sedikit tentu akan menuai sedikit. Tapi kalau ia menabur banyak tentu hasil tuaiannya akan banyak. Yang menentukan hasil tuaian dalam kehidupan ini bukan Tuhan. Alkitab mengajar dengan jelas, apa yang kita tabur itu yang akan dituai.

Saya berdoa tidak ada seorangpun diantara kita yang memiliki ukuran kapasitas yang kecil. Kasih karunia Tuhan berlimpah-limpah atas kita. Jangan ada seorangpun yang hanya mengalami sedikit dari lawatan Tuhan atau kasih karunia Tuhan. Saya berdoa kiranya kasih karunia Tuhan, anugerah yang berlimpah-limpah atas Saudara. Engkau diberkati berlimpah-limpah.

Kedua, berkat karena mengasihi Tuhan lebih dari segalanya.

Maleakhi 1:6-8 menuliskan,

"Seorang anak menghormati bapanya dan seorang hamba menghormati tuannya. Jika Aku ini bapa, di manakah hormat yang kepadaKu itu? Jika Aku ini tuan, di manakah takut yang kepadaKu itu? Firman TUHAN semesta alam kepada kamu, hai para imam yang menghina namaKu. Tetapi kamu berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami menghina namaMu?" Kamu membawa roti cemar ke atas mezbahKu, tetapi berkata: "Dengan cara bagaimanakah kami mencemarkannya?" Dengan cara menyangka: "Meja TUHAN boleh dihinakan!" Apabila kamu membawa seekor binatang buta untuk dipersembahkan, tidakkah itu jahat? Cobalah menyampaikannya kepada bupatimu, apakah ia berkenan kepadamu, apalagi menyambut engkau dengan baik? Firman TUHAN semesta alam."

Mengapa Tuhan ingin agar kita memberi dan membawa korban persembahan untuk Tuhan. Kalau saya bertanya berapa banyak diantara Saudara yang mengasihi Tuhan, saya percaya kita semua mengasihi Tuhan. Pertanyaannya sampai sejauh mana kita mengasihi Tuhan? Hanya Saudara yang tahu. Maleakhi 1:6-8 memberikan informasi kepada kita. Anda akan mengetahui berapa besar kasih Saudara, sampai seberapa lebar kasih Saudara kepada Tuhan dilihat dari besarnya persembahan untuk Tuhan. Persembahan itu adalah kasih. Kalau kita mengasihi seseorang tentu kita akan mempersembahkan yang terbaik untuk orang yang kita kasihi itu.

Apa yang terjadi kalau kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati kita?

Yohanes 21:15-16 menuliskan,

"Sesudah sarapan Yesus berkata kepada Simon Petrus: "Simon, anak Yohanes, apakah engkau mengasihi Aku lebih dari pada mereka ini?" Jawab Petrus kepadaNya: "Benar Tuhan, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau." Kata Yesus kepadanya: "Gembalakanlah domba-dombaKu."

Menggembalakan domba-domba Tuhan sebagai bukti mengasihi Dia. Tahun ini gereja kita memiliki satu target yaitu 200 gereja dan 60.000 jiwa beribadah dalam wadah ini. Otoritas rohani untuk memenangkan jiwa akan diberikan kepada orang-orang yang mengasihi Dia. Saya percaya kalau Saudara mengasihi Tuhan lebih dari segalanya, Saudara akan dipakai untuk memenangkan jiwa-jiwa. Saya percaya Anda akan dipakai dengan tanda-tanda ajaib, hikmat Tuhan akan bekerja atas Saudara ketika berbicara kepada orang lain sehingga mereka akan menerima Yesus sebagai Tuhan dan juruselama mereka. Otoritas untuk menggembalakan akan diberikan Tuhan kepada kita yang mengasihi Tuhan dengan kadar lebih dari segalanya.

1 Korintus 13:4 menuliskan bahwa ciri-ciri orang yang mengasihi adalah dia akan bermurah hati. Kasih itu korban atau sacrifice. 1 Korintus 6:10 menuliskan bahwa orang pelit tidak mendapat bagian dalam kerajaan sorga.

Setiap minggu ketiga gereja kita mengumpulkan diakonia untuk orangtua jompo, dan yang berkekurangan. Apabila ada diantara kita yang mengalami kekurangan maka para diaken akan membantu Saudara. Persembahan diakonia minggu ketiga diberikan kepada orang yang berkekurangan. Atau mengalami sakit penyakit. Di Medan Plaza lantai enam gereja menyediakan klinik bagi orang yang ingin berobat. Hanya dengan Rp.2.500 pengobatan akan ditangani oleh dokter plus diberikan obat. Itu semua berasal dari persembahan diakonia.

Ketiga, berkat karena datang mendekat kepada Tuhan.

Kata korban dalam bahasa Inggris berarti to draw near, to come near. Yang disuruh datang mendekat.

Yakobus 4:8 menuliskan,

"Mendekatlah kepada Allah, dan Ia akan mendekat kepadamu. Tahirkanlah tanganmu, hai kamu orang-orang berdosa! Dan sucikanlah hatimu, hai kamu yang mendua hati!"

Ada satu ketentuan dalam Alkitab bahwa setiap kali kita datang kepada Tuhan tidak boleh menghampiriNya dengan tangan kosong. Korban artinya yang disuruh datang mendekat. Jadi setiap mendekat harus membawa korban.

Kalau kita rindu datang mendekat kepada Tuhan, Tuhan lebih rindu lagi untuk datang mendekat kepada kita.

Yesus memberikan perumpamaan tentang anak yang hilang dalam Lukas 15:11-32. Dikisahkan bahwa anak bungsu pergi meninggalkan Bapa namun hidupnya hancur sehingga harus bekerja memberi makan babi. Babi dalam komunitas orang Yahudi adalah hewan yang haram. Orang Yahudi tidak boleh menjamah dan makan babi karena torat. Babi adalah hewan yang najis buat mereka. Kemungkinan besar dalam versi saya, dia melakukan pekerjaan-pekerjaan yang najis yang tidak dilakukan orang lain. Mungkin dia penjual ekstasi, atau penjual candu. Dia melakukan banyak hal yang tidak mau dilakukan orang lain. Tapi Alkitab berkata sekalipun dia melakukan pekerjaan najis namun tidak bisa mengenyangkan dirinya sendiri sampai harus mengambil ampas babi sebagai makanannya. Ketika itu dia ingat di rumah Bapanya banyak pegawai, ia berpikir mungkin aku akan mendapatkan lowongan pekerjaan sebagai salah satu pegawai bapa. Akhirnya dia mengambil keputusan untuk kembali ke rumah bapanya. Mengambil keputusan mendekat kepada Bapa. Ketika bapanya ada di sotoh rumah dan melihat ada orang datang mendekat dari kejauhan dan dia melihat rupanya seperti anaknya yang pernah hilang. Dia segera bergegas dan turun dari sotoh rumah menyongsong anak tersebut. Ketika anak itu melihat bapanya menyongsong, dia tidak tahan dan sujud menyembah dan berteriak minta ampun kepada bapanya. Bapa tidak mengindahkan perkataan anaknya dan mulai memeluk anak itu. Bapa mulai memberikan baju yang baru. Bapa memberikan cincin sebagai meterai bahwa dia adalah anaknya.

Mari datang mendekat kepada Tuhan maka Dia akan datang mendekat kepada kita.

Jadikan hidup kita sebagai rumah persembahan. Bawa korban kepada Tuhan. Berilah dengan kapasitas yang terbaik, lebih dari segalanya dan mendekatlah kepada Tuhan maka engkau akan hidup dalam kasih karuniaNya senantiasa. Tuhan memberkati.