|
Pada tahun 1998 Indonesia mengalami pergantian kepala pemerintahan dan
pergantian tersebut diwarnai oleh penjarahan, perampokan dan pemerkosaan. Pada
saat itu saya bertanya kepada Tuhan mengenai semua ini, sebab biasanya sebelum
hal-hal seperti itu terjadi Tuhan terlebih dahulu akan memberitahukannya
kepada para nabi-Nya. Namun tidak demikian dengan yang kali ini.
Dalam kejadian tersebut kami kehilangan salah seorang pendeta yang melayani
bersama dengan kami sebab beliau dibakar hidup-hidup dan mati sebagai martir.
Ketika melihat kekacauan itu, saya mulai berdoa dan bertanya kepada Tuhan
mengapa semuanya itu tersembunyi dari kami. Tuhan mengatakan bahwa gereja-Nya
di Indonesia belum mencapai standar yang Ia inginkan seperti yang tercantum
dalam I Petrus 2:9,
“Tetapi kamulah bangsa yang terpilih, imamat yang
rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kamu
memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Dia, yang telah memanggil
kamu keluar dari kegelapan kepada terang-Nya yang ajaib.”
Imamat yang rajani berarti bahwa setiap orang percaya dipanggil oleh
Tuhan sebagai imam dan juga sebagai raja. Imam dalam bahasa aslinya
diambil dari kata Ibrani ‘kohen’ yang berarti ‘to draw near’ (datang mendekat).
“Sesungguhnya Aku ini telah mengambil saudara-saudaramu,
orang Lewi, dari tengah-tengah orang Israel sebagai pemberian kepadamu,
sebagai orang-orang yang diserahkan kepada Tuhan, untuk melakukan pekerjaan
pada Kemah Pertemuan; tetapi engkau ini beserta anak-anakmu harus memegang
jabatanmu sebagai imam dalam segala hal yang berkenaan dengan mezbah dan
dengan segala sesuatu yang ada di belakang tabir, dan kamu harus
mengerjakannya; sebagai suatu jabatan pemberian Aku memberikan kepadamu
jabatanmu sebagai imam itu; tetapi orang awam yang mendekat harus dihukum
mati.” (Bilangan 18:6-7)
Jadi jabatan sebagai imam adalah jabatan pemberian dari Tuhan (as a gift).
Boleh datang mendekat kepada Tuhan adalah merupakan suatu berkat yang sangat
khusus. Pemazmur menuliskan dalam Mazmur 65:5,
“Berbahagialah orang yang Engkau pilih dan yang Engkau
suruh mendekat untuk diam di pelataran-Mu...”
Adam pertama datang sebagai raja tetapi Adam kedua, yaitu Tuhan Yesus,
datang sebagai imam dan raja. Sebagai raja, Adam pertama memerintah, dia
diberi wewenang untuk memerintah seturut kehendaknya. Ia boleh memberi nama
kepada binatang-binatang yang ada di taman Firdaus sekehendak hatinya, dan
Allah menyetujuinya.
“…Dibawa-Nyalah semuanya kepada manusia itu untuk
melihat, bagaimana ia menamainya; dan seperti nama yang diberikan manusia
itu kepada tiap-tiap makhluk yang hidup, demikianlah nanti nama makhluk itu.”
(Kejadian 2:19)
Dengan kata lain Adam pertama memerintah sekehendak hatinya dengan
persetujuan Allah. Adam kedua, yang adalah Tuhan Yesus, datang sebagai imam
dan raja. Ia adalah raja namun Ia memerintah bukan atas kehendak-Nya sendiri
melainkan atas kehendak Bapa-Nya yang di Surga.
Sebenarnya sejak dari semula, blue print Allah untuk bangsa Israel
adalah untuk menjadikannya sebagai imamat yang rajani.
“Kamu sendiri telah melihat apa yang Kulakukan kepada
orang Mesir, dan bagaimana Aku telah mendukung kamu di atas sayap rajawali
dan membawa kamu kepada-Ku. Jadi sekarang, jika kamu sungguh-sungguh
mendengarkan firman-Ku dan berpegang pada perjanjian-Ku, maka kamu akan
menjadi harta kesayangan-Ku sendiri dari antara segala bangsa, sebab Akulah
yang empunya seluruh bumi. Kamu akan menjadi bagi-Ku kerajaan imam dan
bangsa yang kudus. Inilah semuanya firman yang harus kaukatakan kepada orang
Israel.” (Keluaran 19: 4-6)
Tetapi sayang di tengah perjalanan bangsa Israel menolak untuk mendekat
kepada Tuhan, dan mereka memohonkan agar Musa yang menjadi mediator untuk
menyampaikan kehendak Tuhan kepada mereka sebab mereka takut. Penolakan kepada
Allah ini mencapai klimaks pada saat bangsa Israel meminta raja untuk
memerintah atas mereka, sehingga rencana yang mulia itu tertunda. Tetapi Allah
adalah Allah yang setia, panjang sabar dan penuh belas kasihan. Dua ribu tahun
yang lalu Ia mengutus Anak-Nya yang tunggal untuk kembali menggenapkan
rencana-Nya yang mulia, sehingga barangsiapa yang menerima Tuhan Yesus sebagai
Tuhan dan Juruselamat maka sesungguhnya ia adalah imamat yang rajani.
Berikut di bawah ini adalah ayat-ayat yang mencatat tentang rencana Allah
terhadap gereja-Nya:
“Bagi Dia, yang mengasihi kita dan yang telah
melepaskan kita dari doa kita oleh darah-Nya - dan yang telah membuat kita
menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, Bapa-Nya, - bagi
Dialah kemuliaan dan kuasa sampai selama-lamanya. Amin.” (Wahyu 1:5b-6)
“Dan Engkau telah membuat mereka menjadi suatu kerajaan,
dan menjadi imam-imam bagi Allah kita, dan mereka akan memerintah sebagai
raja di bumi.” (Wahyu 5:10)
Berbahagia dan kuduslah ia, yang mendapat bagian dalam
kebangkitan pertama itu. Kematian yang kedua tidak berkuasa lagi atas mereka,
tetapi mereka akan menjadi imam-imam Allah dan Kristus, dan mereka akan
memerintah sebagai raja bersama-sama dengan Dia, seribu tahun lamanya. (Wahyu
20:6)
Jelaslah sudah bahwa rencana Tuhan tidak bisa gagal. Gereja harus bangkit
dan mengambil posisi sebagai imam dan raja.
Sayangnya setelah lewat 2000 tahun, gereja di Indonesia, khususnya orang
percaya, hanya mau memenuhi panggilan sebagai raja yang memerintah tetapi
tidak mau menjadi imam yang melayani.
Adam pertama memerintah di bumi sebagai raja dan gagal, tetapi Adam kedua
yaitu Tuhan Yesus Kristus adalah raja yang sesungguhnya namun saat Ia datang
ke dalam dunia Ia tidak mengambil rupa sebagai seorang raja yang memerintah,
melainkan imam yang melayani. Dan Ia berhasil!
Saudara-saudara yang dikasihi Kristus, saya berdoa agar tidak ada seorangpun
yang gagal, kiranya Saudara semua berhasil dan beruntung. Jangan hanya
memenuhi panggilan Tuhan sebagai raja, datang ke gereja hanya untuk dilayani,
tetapi penuhilah juga panggilan Tuhan sebagai imam yang melayani.
Jadilah pelayan di gereja tempat Saudara beribadah.
Dalam doa saya pasca peristiwa Mei 1998, Tuhan bertanya kepada saya, “Apakah
di tempat-tempat yang terjadi kerusuhan tersebut terdapat gereja? Saya katakan,
“Ada, Tuhan.” Kemudian Tuhan mulai membukakan pengertian bahwa di dalam
Perjanjian Lama cukup ada satu orang hakim saja yang memerintah maka bangsa
Israel hidup aman selama sekian puluh tahun, sedangkan di Indonesia saat ini
ada begitu banyak gereja Tuhan berdiri namun Indonesia tidak aman. Mengapa?
Saya percaya salah satu penyebabnya adalah karena gereja di Indonesia belum
memiliki standar sesuai dengan blue print Tuhan, sebagai imam dan raja!
Pada dasarnya seorang imam bertanggung jawab terhadap pelayanan di
tempat kudus.
“Tuhan berfirman kepada Harun: “Engkau ini dan
anak-anakmu beserta seluruh sukumu haruslah menanggung akibat setiap
kesalahan terhadap tempat kudus; sedang hanya engkau beserta anak-anakmulah
yang harus menanggung akibat setiap kesalahan yang dilakukan dalam jabatanmu
sebagai imam.” (Bilangan 18:1)
Dari pihak Allah untuk dapat masuk ke tempat kudus Allah harus mengorbankan
Putra-Nya yaitu Tuhan
Yesus Kristus.
“Jadi, saudara-saudara, oleh darah Yesus kita sekarang
penuh keberanian dapat masuk ke dalam tempat kudus, karena Ia telah membuka
jalan yang baru dan yang hidup bagi kita melalui tabir, yaitu diri-Nya
sendiri”. Jadi sebelum kita melayani Tuhan di tempat kudus-Nya, Tuhan
terlebih dahulu melayani kita dengan cara memberikan Putra-Nya yang tunggal
kepada kita, untuk mendamaikan kita dengan diri-Nya. (Ibrani 10:19-20 )
Tugas imam adalah membawa korban dan persembahan. Dalam Ulangan 16:16b-17
tertulis demikian,
“… Janganlah ia menghadap hadirat Tuhan dengan tangan
hampa, tetapi masing-masing dengan sekedar persembahan, sesuai dengan berkat
yang diberikan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu.”
Apa yang terjadi pada waktu seorang imam membawa korban persembahan ke
hadapan Tuhan? Mari kita melihat firman Tuhan berikut di bawah ini:
Ketika Tuhan mencium persembahan yang harum itu,
berfirmanlah Tuhan dalam hati-Nya: “Aku takkan mengutuk bumi ini lagi karena
manusia, sekalipun yang ditimbulkan hatinya adalah jahat dari sejak kecilnya,
dan Aku takkan membinasakan lagi segala yang hidup seperti yang telah
Kulakukan. Selama bumi masih ada, takkan berhenti musim menabur dan menuai,
dingin dan panas, kemarau dan hujan, siang dan malam.” (Kejadian 8:21-22)
Kejadian pasal 7 menceritakan bagaimana Tuhan menghukum bumi ini dengan air
bah karena dosa manusia. Pasal 8 menceritakan air bah yang telah surut. Dapat
kita bayangkan bahwa tentunya pada waktu itu bau kematian ada di mana-mana,
dan sejauh mata Nuh memandang yang nampak adalah kerusakan akibat ulah dan
dosa manusia pada jamannya. Di tengah-tengah bau kematian tersebut Nuh
mempersembahkan korban, dan ketika Tuhan mencium harumnya persembahan tersebut
maka berbaliklah Ia dari amarah-Nya dan mulai memberkati bumi.
Kebenaran yang pertama: Tuhan mengubah kutuk menjadi berkat, dan itu
terjadi pada saat Nuh mempersembahkan korban. Tantangan atau kutuk apa yang
sedang Saudara alami saat ini? Kutuk sakit penyakit? Kutuk kemiskinan? Kutuk
kegagalan dalam segala usaha? Ketahuilah bahwa jalan keluar terletak di tangan
Saudara. Saudara sanggup mengubahnya menjadi berkat. Ambil keputusan untuk
berhenti hanya menjadi jemaat, mulailah melayani Tuhan dan layanilah Dia di
tempat kudus-Nya.
“Kemudian Elia berkata kepada nabi-nabi Baal itu:
“Pilihlah seekor lembu dan olahlah itu dahulu, karena kamu ini banyak.
Sesudah itu panggillah nama allahmu, tetapi kamu tidak boleh menaruh api.”
(I Raja-Raja 18:25)
Pasal tersebut menceritakan tentang keadaan bangsa Israel yang jatuh dalam
penyembahan berhala. Mulai dari lapisan yang paling atas yaitu raja Israel,
permaisuri, pejabat tinggi dan seluruh rakyat berbalik dari Tuhan dan sujud
menyembah kepada Baal. Dalam keadaan seperti itu nabi Elia dibangkitkan oleh
Tuhan. Dia tidak bisa menerima situasi dan kondisi yang dialami oleh bangsanya
saat itu, dan iapun mulai berseru-seru kepada Tuhan demi keselamatan bangsanya.
Jalan keluar yang Tuhan berikan untuk membawa bangsa itu kembali kepada-Nya
adalah melalui suatu pertandingan antara Elia yang hanya seorang diri melawan
barisan para nabi Baal dihadapan bangsa Israel yang murtad itu. Keduanya harus
mempersembahkan korban bakaran namun tidak boleh menaruh api ke atasnya. Api
harus
datang dari yang mereka sembah. Pertandingan ini tentu saja tidak dapat
dilakukan oleh seorang manusia atau dewa manapun, kecuali oleh Tuhan Pencipta
segalanya.
Para dewa Baal gagal menurunkan api, namun apakah yang terjadi setelah tiba
giliran Elia mempersembahkan korban? I Raja-Raja 18:38-39 mencatat,
“Lalu turunlah api Tuhan menyambar habis korban bakaran,
kayu api, batu dan tanah itu, bahkan air dalam parit itu habis dijilatnya.
Ketika seluruh rakyat melihat kejadian itu, sujudlah mereka serta berkata,
“Tuhan, Dialah Allah! Tuhan, Dialah Allah!”
Bukankah hal seperti ini yang kita impikan untuk juga terjadi di tanah
tercinta ini, kita rindukan bangsa ini berbalik dari jalan-jalannya yang jahat
dan datang mendekat kepada Tuhan?
Kebenaran yang kedua: Tuhan mengubah perjalanan sejarah suatu bangsa
dari penyembahan kepada berhala menjadi penyembah-penyembah Allah yang benar
pada saat mereka mempersembahkan korban.
“Sedang Samuel mempersembahkan korban bakaran itu,
majulah orang Filistin berperang melawan orang Israel. Tetapi pada hari itu
Tuhan mengguntur dengan bunyi yang hebat ke atas orang Filistin dan
mengacaukan mereka, sehingga mereka terpukul kalah oleh orang Israel.” (I
Samuel 7:10)
Pasal ini menulis tentang bagaimana Samuel sebagai hakim mulai menghakimi
bangsa Israel. Pada waktu mereka berkumpul bersama-sama tiba-tiba mereka
dikejutkan oleh bunyi deru peperangan, dan Samuel menerima kabar bahwa
Filistin menyerang bangsa Israel dengan kekuatan penuh. Puji Nama Tuhan, dalam
keadaan seperti itu Samuel tidak lari kepada kaum Yehuda (angkatan perang pada
waktu itu), Samuel juga tidak mempersenjatai seluruh rakyat untuk
mempertahankan diri guna menanggulangi serangan tersebut, namun Samuel lari
kepada Tuhan. Samuel datang mendekat kepada Tuhan dan mempersembahkan korban.
Tatkala Tuhan mencium bau persembahan itu, maka bangkitlah Tuhan dan berperang
ganti mereka.
Saudara, ada banyak cara untuk mengalahkan musuh. Kita bisa berperang dengan
menggunakan Nama Tuhan Yesus, kita bisa berperang dengan kuasa darah Tuhan
Yesus, juga dengan perkataan kesaksian kita. Namun saya percaya musuh juga
bisa dikalahkan saat kita datang mendekat kepada Tuhan untuk mempersembahkan
korban .
Kebenaran yang ketiga: Tuhan mengubah ancaman menjadi kemenangan yang
gilang-gemilang saat kita datang mendekat kepada-Nya dengan mempersembahkan
korban.
Setelah mengetahui kebenaran-kebenaran ini, apalagi yang kita tunggu? Jangan
kita berpuas diri hanya dengan menjadi jemaat yang dilayani. Ambil keputusan
untuk mulai melayani Tuhan, dan mulai berfungsi sebagai imam dan raja, datang
mendekat kepada-Nya dengan membawa korban persembahan yaitu hidup kita (Roma
12:1), ucapan syukur kita (Ibrani 13:15), perbuatan baik (Ibrani 13:16),
persembahan rohani (I Petrus 2:5), persembahan kasih (Filipi 4:18). Dan alami
perubahan-perubahan yang indah di dalam kehidupan Saudara sebagai imamat yang
rajani.
Selamat melayani, Tuhan Yesus memberkati.
|